![]() |
![]() |
Auw Jong Peng Koen atau Petrus Kanisius Ojong lahir tanggal 25 Juli 1920 di Bukit Tinggi, Sumatera Barat dari keluarga pendatang dari Quemoy Cina daratan. Lulus SD dan Mulo (setaraf SMA) di Payakumbuh dan Padang, sebelum merantau ke Jakarta menempuh pendidikan Sekolah Guru Atas Negeri di Jatinegara, dan lulus tahun 1951 dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Ojong pernah menjadi guru SD Budi Mulia di Mangga Besar Jakarta sebelum menjalani karier panjang di bidang pendidikan, kewartawanan, hukum, sosial, dan kultural. Antara lain sebagai wartawan Harian Keng Po dan Mingguan Star Weekly, Direktur Perusahaan Penerbitan PT Saka Widya, anggota Badan Pimpinan Pusat Partai Katolik, bendahara Pengurus Pusat Serikat Penerbit Surat Kabar, bendahara Yayasan Indonesia yang menerbitkan majalah kebudayaan Horison, bendahara Lingkaran Seni Jakarta, anggota Dewan Kurator lembaga Bantuan Hukum/Lembaga Pembela Umum Jaya, Ketua Dewan Pembina Yayasan Tarumanegara yang menyelenggarakan Universitas Tarumanegara, koordinator Serikat Pers Katolik Internasional wilayah Indonesia dan turut mendirikan serta menjadi direktur Kantor Berita Katolik Asia di Hongkong. Di bidang sosial, pernah mengetuai Yayasan Retino Blastoma di Jakarta tahun 1979 yang menyantuni para penderita cacat retina mata. Di antara deretan karier itu, bersama Jakob Oetama ia menerbitkan Majalah Intisari tahun 1963 dan Harian Kompas tahun 1965, cikal bakal Kompas Gramedia. Semasa hidupnya Ojong amat peduli pada hak azasi manusia. Pandangan hidupnya mewarnai nilai-nilai yang diusung oleh Kompas Gramedia. "Hidup sederhana, berpikir mulia" dijalaninya sehari-hari bersama seluruh karyawan. PK Ojong wafat Sabtu 31 Mei 1980 pukul 9.45 WIB. Patung dirinya didirikan di halaman Bentara Budaya Jakarta, lembaga nirlaba Kompas Gramedia yang dibangun berdasarkan niat pelestarian serta pengembangan seni budaya Indonesia. |
![]() |
![]() Anak seorang guru, Jakob begitu panggilan akrabnya sejak kecil, dilahirkan tanggal 27 September 1931 di Dusun Borobudur, Kabupaten Kulon Progo, Jogja. Pernah menempuh pendidikan di Seminari Mertoyudan Magelang, dan lulus kursus B1 Ilmu Sejarah sekaligus Perguruan Tinggi Publisistik di Jakarta. Tahun 1961, menyelesaikan jenjang S1 Fakultas Sosial dan Politik Universitas Gajah Mada Jogja. Jakob juga pernah diangkat menjadi dosen tidak tetap Jurusan Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia. Tahun 2001 Universitas Gajah Mada menganugerahkan gelar Doctor Honoris Causa kepada Jakob Oetama atas dasar pertimbangan kepeloporan berikut kepemimpinannya dalam dunia media massa Indonesia. Jakob sempat meniti karier sebagai guru SMP Mardiyuwana di Cipanas Jawa Barat dan SMP Van Lith Jakarta tahun 1953, sebelum pada tahun 1955 menjabat Redaktur Mingguan Penabur Jakarta. Bersama PK Ojong, pada bulan Agustus 1963 Jakob mendirikan Majalah Intisari dan menjadi Pemimpin Redaksi sampai tahun 1999. Selain itu, semenjak Harian Kompas diterbitkan pertama kali tanggal 28 Juni 1965, jabatan Pemimpin Redaksi juga dipegang olehnya. Tahun 1980, setelah PK Ojong tutup usia, Jakob merangkap jabatan Pemimpin Umum Kompas. Seiring dengan semakin berkembangnya bisnis yang dirintisnya, Jakob ditetapkan sebagai Presiden Direktur Kompas Gramedia - posisi yang kemudian dalam reorganisasi perusahaan tahun 2008 menetapkannya selaku Presiden Komisaris Kompas Gramedia. Jakob Oetama dikenal dengan konsep "humanisme transendental" - humanisme yang imani, yang dalam perwujudannya harus selalu disegarkan dalam menghadapi segala perubahan serba cepat dalam masyarakat - yang diusungnya, sebagai visi misi yang diemban pula oleh Harian Kompas dalam menentukan langkah kebijakan pemberitaan. |