WAJAH BARU HARIAN KOMPAS

Rabu 3 Januari 2018, bertepatan dengan penerbitan edisi ke-17.731, Kompas kembali meredesain wajahnya. Perubahan wajah Kompas yang mengandalkan center of visual impact dengan desain yang “clean and strong“ adalah respons Kompas dan versi digitalnya, Kompas.ID, atas perubahan perilaku membaca akibat revolusi digital.

Harian Kompas dan Kompas.ID mencoba menanggapi perubahan itu. Baik versi koran maupun versi digital di Kompas.ID berada dalam satu kebijakan editorial dan kebijakan bisnis, mencoba menjawab kebutuhan multimedia, interaktivitas, real time yang menjadi ciri dari media digital. Kompas dan Kompas.ID adalah satu kesatuan untuk menjawab tantangan.

Dalam perjalanannya selama 52 tahun, perubahan desain wajah adalah hal biasa. Desain baru yang dirancang sepenuhnya oleh desainer intern, melibatkan sejumlah editor lintas generasi di Kompas, peneliti Litbang Kompas, diskusi terpusat dengan kelompok pembaca, serta bagian bisnis, tetaplah mengacu pada karakter Kompas sebagai surat kabar berkualitas dengan ciri khas utamanya yang dipertahankan, klasik dan elegan. Prinsip dasar itu dikombinasikan dengan tren kekinian yang menghendaki desain yang lebih clean dan strong.

Dengan keterbatasan ruangan koran, harian Kompas memang tak mungkin jorjoran memberikan informasi kepada pembaca. Ketika media digital unggul dalam kecepatan, koran ditantang meningkatkan kualitas berita, memberikan kedalaman, menawarkan perspektif, mengedepankan akurasi (jurnalisme presisi), dan memberi makna atas berita (jurnalisme makna). Redaksi Kompas dan Kompas.ID berkomitmen penuh untuk menjadi rumah penjernih informasi (clearing house of information) dan rumah pengetahuan di tengah informasi yang berserak.

Memasuki fase 50 tahun kedua, Kompas telah menjadi teman perjalanan bangsa. Hadir pada masa akhir kekuasaan Presiden Soekarno pada 28 Juni 1965, Kompas berkarya pada masa Presiden Soeharto, Presiden BJ Habibie, Presiden KH Abdurrahman Wahid, Presiden Megawati Soekarnoputri, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dan kini Presiden Joko Widodo.

Gaya jurnalisme Kompas tak bisa dilepaskan dari cara pandang pendirinya, Jakob Oetama, tentang manusia. Manusia selalu ada dua sisi, kebaikan dan kelemahan. Karena itu, kata Jakob, we are no angels. Pandangan itulah yang menjadikan kritik Kompas disampaikan dengan penuh pengertian, kritik with understanding.

Liputan mendalam yang hadir tiap awal pekan ataupun liputan komprehensif bercorak ekspedisi dan penjelajahan akan menjadi ciri utama harian ini. Liputan bercorak ekspedisi adalah tawaran Kompas untuk melihat Indonesia dengan cara berbeda. Indonesia tidak hanya dilihat dari otonomi daerah, tetapi bisa dilihat dalam cara lain, seperti melihat Indonesia dari sungai (Ekspedisi Bengawan Solo 2007, Ekspedisi Ciliwung 2009, Jelajah Musi 2010, Ekspedisi Citarum 2011), melihat Indonesia dari gunung (Ekspedisi Cincin Api, 2011-2012), melihat Indonesia dari makanan (ekspedisi kuliner 2012), melihat Indonesia dari bawah laut (Ekspedisi Terumbu Karang 2017), serta Jalur Rempah (2017).

Jurnalisme berkedalaman inilah yang akan terus diupayakan di tengah era yang berubah. Desain boleh saja berubah, tetapi visi dan komitmen kemanusiaan Kompas tetap bertahan. Dia diaktualisasikan dan dibuat lebih relevan dengan zaman serta kebutuhan pembacanya. Kebutuhan pembaca akan selalu menjadi pertimbangan. Prinsip perbaikan berkelanjutan, ketaatan pada kode etik, kesetiaan pada prinsip dan kaidah jurnalisme, menjaga independensi ruang redaksi akan tetap dipegang teguh.

Disarikan dari tulisan Budiman Tanuredjo, Pemimpin Redaksi Harian Kompas. Terbit di Harian Kompas, 3 Januari 2018

HITUNG CEPAT PILKADA SERENTAK 2018

Antara lain sebagai wujud jurnalisme presisi, hitung cepat hasil pemilihan kepala daerah digelar di Palmerah. Tentunya sekaligus dengan semangat mengawal...

SANTIKA INDONESIA RAIH PENGHARGAAN

Satu lagi pencapaian diraih oleh Santika Indonesia Hotels and Resorts, kali ini diberikan oleh Markplus, Inc., konsultan profesional bidang pemasaran,...

Kembalikan Lagu Anak Indonesia!

UMN Pictures bersama Corporate Communications KG berkolaborasi memproduksi video animasi lagu anak “Aku Suka Membaca“, salah satu juara lomba...

OJEK LUSI UMN MENANGKAN MALANG FILM FESTIVAL 2018

Film dokumenter Ojek Lusi garapan mahasiswa prodi Film dan Televisi UMN memenangkan Malang Film Festival 2018 kategori Film Dokumenter Terbaik di Universitas...

NONTON BARENG VALUE PEOPLE: “AVENGERS INFINITY WAR“

Turut memeriahkan penayangan film terbaru seri Avengers yang sudah dinanti-nanti banyak penggemarnya, KG Value Card menyelenggarakan “Nonton Bareng...

OTOMOTIF AWARD 2018 ‘The Right Choice’

Untuk ke-11 kalinya Tabloid OTOMOTIF menggelar Otomotif Award, pada Rabu, 28 Maret, di Shangri-La Hotel Jakarta.

SUCI 8 MISSION IMPOSSI8LE

Stand Up Comedy Indonesia (SUCI) KompasTV memasuki musim ke-8 setelah konsisten beregenerasi selama tujuh tahun tanpa jeda.

Gramedia Writers and Readers Forum 2018

Gramedia bekerja sama dengan Badan Ekonomi Kreatif, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, dan Komite Buku Nasional menyelenggarakan program inspiratif...

INDONESIA CONTENT MARKETING AWARDS 2018

Untuk pertama kalinya Grid Story Factory dan Grid Voice menggelar acara penganugerahan bagi para pelaku content marketing di Indonesia, Rabu, 11 April,...

PENGHARGAAN UNTUK MEDIA CETAK KG

Media-media cetak kita menerima penghargaan dari berbagai kategori pada perayaan Hari Pers Nasional yang diadakan di Ballroom Hotel Mercure Padang, Sumatera...
© 1963 - 2018  Kompas Gramedia - All rights reserved.
Website by PandavaMedia