![]() |
Jakarta, Kompas - Adanya penerapan standar kompetensi akan menjadi jembatan antara dunia pendidikan dan kebutuhan dunia kerja.
”Harus ada standar keterampilan sesuai dengan yang dibutuhkan industri,” kata Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar sebelum menyerahkan penghargaan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) Competency Award dan BNSP Life Achievement Award, Sabtu (17/12). Muhaimin menggarisbawahi perubahan yang dinamis di dunia industri dan kesenjangannya dengan dunia pendidikan.
Muhaimin menggarisbawahi perlunya sistem yang menjalankan fungsi pendidikan, yaitu sertifikasi. Diharapkan, dengan adanya sertifikasi, pekerja Indonesia jadi memiliki peluang yang setara dengan pekerja negara-negara lain serta mendapat pekerjaan dan upah yang layak.
Ketua BNSP Adjat Daradjat berharap, penghargaan BNSP ini menjadi motivasi berbagai pihak sehingga ada budaya kompetensi dalam dunia kerja di Indonesia. Adjat juga menyebutkan program BNSP untuk mengadakan gerakan nasional sertifikasi. ”Fokus pada pekerja mandiri karena belum ada pengakuan formal,” kata Adjat.
BNSP Life Achievement Award 2011 dianugerahkan kepada tokoh media Jakob Oetama, tokoh olahraga Christian Hadinata, tokoh seni-budaya Daeng Soetigna, tokoh sosial Seto Mulyadi, tokoh pendidikan Arief Rachman. Christian Hadinata mengajak semua pihak untuk kembali menggiatkan bulu tangkis sampai ke desa-desa. Seto Mulyadi meminta mereka yang memiliki pekerja rumah tangga berusia di bawah 18 tahun memberi kesempatan sekolah dan tidak menyuruh bekerja lebih dari lima jam.
Sementara itu, St Sularto yang mewakili Jakob Oetama menyatakan, kompetensi jadi prasyarat terutama dalam industri media yang berkembang pesat saat ini.
Untuk kategori institusi, BNSP Competency Award subkategori Lembaga Sertifikasi Profesi diberikan kepada FPSB, Perhapi, dan Pupuk Kaltim. Sementara subkategori tempat uji kompetensi diraih PT PAL Indonesia, subkategori lembaga pendidikan diraih Diklat ATMI Solo, dan subkategori perusahaan untuk PT Krakatau Steel. (EDN)