![]() |

Di lingkungan penerbit pers, ada kebiasaan mengumpulkan benda-benda langka yang adakalanya memiliki nilai antik. Dan Kompas tidak terbebas dari ciri yang tampaknya menjadi pembawaan penerbitan surat kabar dimana-mana.
Ketika jumlah koleksi yang dirintis oleh almarhum PK. Ojong semakin banyak, muncullah masalah tempat penyimpanan. Akan ditempatkan dimana dan akan dimanfaatkan secara bagaimanakah benda-benda itu selanjutnya?
Sementara kami dan beberapa rekan memikirkan masalah tersebut, datang sebuah tawaran dari Kudus, Jawa Tengah, berupa sebuah rumah tradisional asli yang masih bagus, utuh, dan akan dijual.
Jumlah rumah adat Kudus yang bagus dan utuh tinggal beberapa lagi. Lainnya hijrah ke luar negeri. Beberapa lagi ditanggalkan beberapa bagiannya untuk melengkapi rumah-rumah puncak di kota-kota besar Indonesia.
Jika demikian, apa salahnya, rumah yang ditawarkan itu kami ambil dan kami pugar. Hanya lokasinya bukan di Kudus, tapi di Jakarta. Dibangun ulang di area kompleks perkantoran Kompas Gramedia di Palmerah Selatan, sekaligus digabungkan dengan rencana untuk membangun balai pertemuan dan tempat menyimpan serta mempertontonkan koleksi benda-benda seni kami.
Pemiliknya bukan perseorangan, tetapi lembaga. Dengan demikian diharapkan lebih terjamin pemeliharaan dan kelestariannya.
Barangkali, dalam posisinya kini, peninggalan antik Rumah Kudus ini akan lebih banyak dikunjungi masyarakat luas, dinikmati, dikagumi, dan menjadi salah satu inspirator untuk mengembangkan seni ukir Indonesia. Sebab kecuali ruang pameran dan diskusi, dalam kompleks Bentara Budaya Jakarta ini juga secara teratur akan diselenggarakan berbagai kegiatan kesenian dan kerajinan.
Karena maksud kami baik, kami memperoleh bantuan dan persetujuan dari Pemda Jawa Tengah serta Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Usaha kita bersama adalah menjadikan Rumah Kudus (Bentara Budaya Jakarta) ini sebagai salah satu tempat berolah seni, kreativitas, dan kebudayaan.
(dikutip dari tulisan Jakob Oetama, Presiden Komisaris Kompas Gramedia)