Ruang Media
Berita
Karya Seniman William Robert dalam Pameran IMAJINESIA

Pameran Imajinesia, Menjangka Masa Depan Indonesia Melalui Arsip Berita dan Seni

Kamis, 24 September 2026

Ketika jurnalisme yang mengusung fakta direspons para seniman menjadi karya kreatif sarat arti, maka narasi sebuah peristiwa sangat mungkin menjangkau banyak kalangan dan menggema lebih panjang jauh ke masa depan. Itulah semangat yang dikedepankan dalam News Art Project yang diwujudkan Bentara Budaya melalui pameran “IMAJINESIA: Menjangka Masa Depan Indonesia”.

Pameran ini berlangsung pada 24 September-15 Oktober 2026 di Bentara Budaya Jakarta dan menghadirkan karya delapan perupa, yakni Agus Suwage, Aprililia, Budi Ubrux, Mahdi Abdullah, Ruth Marbun, Suharmanto, Tumariyanto, dan William Robert. Dalam proses penciptaannya, masing-masing seniman didampingi delapan kurator Bentara Budaya, yaitu Efix Mulyadi, Frans Sartono, Hermanu, Hilmi Faiq, Putu Fajar Arcana, Sindhunata, Wawan Abk, dan Wisnu Nugroho, untuk menelusuri arsip pemberitaan Harian Kompas sejak 1965.  

“Proyek ini mengusung tema Imajinesia, gabungan dari imaji dan Indonesia. Karya-karya di sini bersemangat untuk menyajikan imajinasi tentang Indonesia. Imaji yang dibangun dari mencermati sejarah masa lalu, menangkap kondisi nyata masa kini, dan menjangka atau meramalkan bayangan Indonesia mendatang,” ungkap General Manager Bentara Budaya and Communication Management Kompas Gramedia, Ilham Khoiri.

Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI, Pratikno, dalam sambutan pembukaan pameran ini melalui tayangan video menyampaikan apresiasinya atas inisiatif mempertemukan jurnalisme dan seni.

“Saya ucapkan terima kasih kepada Bentara Budaya yang sudah hadir 44 tahun, merawat budaya, merawat Indonesia, yang selalu memberi tempat kepada gagasan-gagasan baru yang tidak hanya memajang karya, dan yang terutama mempertemukan masa lalu dan masa depan, mempertemukan tradisi dan kebaruan, dan yang sudah mapan dan yang sedang mencari jalan. Pertemuan antara imaji dan Indonesia, membayangkan rumah besar Indonesia yang terus kita bangun. Kita ingin Indonesia yang maju, tetapi tidak kehilangan kehalusan budi. Indonesia modern, tapi tidak terserabut dari akarnya. Indonesia yang tumbuh, tetapi tidak meninggalkan siapa pun. Indonesia yang teknologinya tinggi, tetapi budi pekerti juga jauh lebih tinggi. Imajinesia, menjangka, menjaga tanda-tanda kegelisahan, mendengarkan harapan, dan membayangkan Indonesia yang belum kita bangun," kata Pratikno.

Dalam pameran ini, tersaji tanggapan kreatif terhadap liputan pemberitaan di Kompas sebagai hasil diskusi mendalam antara seniman dan kurator. Misalnya, bertolak dari arsip berita Sum Kuning (1970) dan Marsinah (1993), Suharmanto melukiskan perempuan yang "diam" ditempa beban. Di sisi lain, wacana Maluku sebagai lumbung ikan nasional direspon William Robert ke dalam lukisan abstrak dengan bidang-bidang dan warna cemerlang. Sementara Ruth Marbun membuat instalasi karya yang ekspresif terinspirasi berita Pak Mayar, seorang petani penggarap di Cikeas, Jawa Barat.

Budi Ubrux mengolah berita tingkah para politisi dalam kampanye pemilu menjadi lukisan manusia-manusia terbungkus koran yang getol berjoget ria. Berita polemik militerisme dalam kawasan Blang Padang, Aceh, mendorong Mahdi Abdullah melukis pemandangan sawah bergaya "mooi indie" yang disisipi simbol militerisme. Liputan tentang pabrik gula digarap Agus Suwage menjadi lukisan manusia-manusia di ladang tebu. Tumariyanto mengolah artikel terkait Chairil Anwar untuk melukis sosok penyair itu dalam balutan kebudayaan Indonesia yang bakal "Hidup Seribu Tahun Lagi." Adapun Aprilia menggarap arsip kebudayaan Minangkabau untuk mengembangkan lukisan yang simbolik dan penuh energi. 

Pengantar Kuratorial oleh Putu Fajar Arcana (kedua dari kiri) bersama Frans Sartono (kiri), Himi Faiq (kedua dari kanan), dan Efix Mulyadi (kanan)

Salah satu kurator pameran, Putu Fajar Arcana, mengungkapkan bahwa, “Bagaimana jika arsip berita yang selama ini kita anggap sekadar catatan peristiwa yang lekang oleh waktu justru bisa menjadi ladang bersyukur bagi imajinasi seni rupa. Dari pertanyaan itulah lahir satu konsep kuratorial bagi kami, yaitu News Art Project.”

“8 kisah berbeda tempat, berbeda waktu, berbeda rasa, tapi semuanya bertaut pada benang bahwa keyakinan Indonesia ditenun dari serpihan masa lalu dan kenyataan kita hari ini, termasuk kenyataan paling pahit sekalipun. Sebagai kurator, kami menyaksikan sendiri bagaimana proses ini berlangsung, ada kunjungan studio, diskusi panjang membedah arsip, perdebatan sebuah berita yang diterjemahkan tidak sekadar menjadi ilustrasi, dan hasilnya 8 cara pandang kejujuran magistik yang hari ini akan kita saksikan bersama-sama,” tutup Putu Fajar Arcana.

Pemimpin Redaksi Harian Kompas Haryo Damardono, dalam pengantarnya berjudul Lelaku dari Lembaran-lembaran Arsip Kompas, merumuskan pertanyaan yang menjadi salah satu pijakan proyek ini: “Bagaimana jika berita dapat menjadi titik berangkat untuk membayangkan masa depan?”

Ia mengaitkan pertanyaan tersebut dengan tradisi jurnalistik yang bertumpu pada fakta dan kesetiaan terhadap kebenaran. Arsip Harian Kompas, menurut Haryo, dapat menjadi bahan untuk menengok perjalanan Indonesia sekaligus meneropong masa depan. Ketika gagasan yang ditemukan dalam arsip kemudian menjelma menjadi karya, seni memberikan ruang yang berbeda: peristiwa tidak harus diterjemahkan secara eksplisit karena simbol, metafora, dan pengalaman visual dapat mengambil alih cara bertuturnya.

Pameran News Art Project “IMAJINESIA: Menjangka Masa Depan Indonesia” dapat dikunjungi di Bentara Budaya Jakarta, Jalan Palmerah Selatan No. 17, Jakarta Pusat, pada 24 September–15 Oktober 2026, pukul 10.00–18.00 WIB. Pameran tetap buka pada Sabtu dan Minggu serta tutup pada hari libur nasional. Informasi mengenai kegiatan dapat menghubungi Instagram @bentarabudaya_.