"Nothing" dalam bahasa Inggris berati "tidak ada". Pengertian itu bisa juga mencakup "not anything" (bukan apa-apa), "nothing else" (tidak ada yang lain), atau "something that has no existence" (sesuatu yang tidak ada).
Budaya Jawa mengenal istilah "suwung", yang pada dasarnya juga berarti kosong. Lebih dari itu, "suwung" juga dapat dimaknai sebagai proses pengosongan pikiran, hati, dan perasaan. Ada suasana meditatif. Seseorang berusaha untuk membebaskan diri dari segala ambisi duniawi, ego, dan kemelekatan dengan berbagai godaan material duniawi.
Ketika mencapai kondisi "suwung," pikiran seseorang menjadi lebih jernih. Dalam kebeningan, seseorang berpotensi menyadari "sangkan paraning dumadi": dari mana kita berasal dan ke mana kita menuju. Pada puncak tertinggi, energi "suwung" bahkan dapat mengantarkan seseorang untuk meraih momen agung, yaitu "manunggaling kawula Gusti": penyatuan antara manusia dengan Tuhan.
Para penekun tasawuf dalam Islam juga mengenal kondisi serupa, "takhalli". Istilah ini berarti proses sseeorang membersihkan diri dari nafsu duniawi. Berhasil melalui fase "takhalli", manusia beranjak ke dalam tahap berikutnya, yaitu "tahalli". Pada fase ini, manusia berusaha mengaitkan kesadaran dirinya dengan kesadaran spiritual, termasuk ketuhahan.
Ketika kesadaran kemanusiaan dan ketuhanan bertemu, terbukalah potensi "tajalli" atau pencerahan. Saat seluruh selimut luar tersingkap, maka manusia dapat menyelami hakikat murni dirinya sekaligus mencicipi Irfan hakikat Tuhan. Proses spiritual ini selaras dengan ajaran "man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu": siapa mengenal dirinya, maka akan mengenal Tuhan-nya. Pada titik puncak, terjadilah "wahdatul wujud", penyatuan wujud manusia dan Tuhan.
Wacana tentang "nothing," "suwung", dan "takhalli" menjadi latar belakang menarik untuk lebih memahami Pameran RB Ali dan Gogor Purwoko bertajuk "Nothing" di Bentara Budaya Art Gallery di Lantai 8 Menara Kompas, Jakarta, 30 September-30 Oktober 2026. Kurasi ditangani oleh Mayek Prayitno dan Sentot D Setiawan.
RB Ali penah merasakan kehilangan mendalam beberapa tahun silam. Kondisi itu sempat menurunkan semangatnya hingga nyaris sampai titik nadir. Dia berjuang keras agar bisa bertahan. Untunglah, seiring hadirnya sosok yang mengisi kekosongan itu, energinya kembali pulih, bahkan melimpah. Bagi RB. Ali, kehidupan itu berotasi, kadang ia diatas, kadang ia dibawah. Berdasar apa yang ia pelajari dari falsafah Ki Ageng Suryomentaram tentang sifat manusia yang "mulur mungkret". Ia merasa hidupnya berada diantara arena itu dan ketika ia merenungkannya kembali, ia merasakan "kekosongan" ("Nothing"/"Suwung"). Bahwa keberadaan kita itu tidak ada apa-apanya. Meski begitu, direlung ruang kekosongan itu, ia justru menemukan eksistensi dirinya terutama dalam proses kreatif. Ia merasa hidup dan mendapatkan vitalitasnya kembali, itu berarti diantara kekosongan, rasa sepi dan kehampaan, ternyata ada "apa-apanya".
Ilham Khoiri selaku GM Bentara Budaya dan Communication Management Kompas Gramedia dalam sambutanya mengatakan, “Di dalam diri manusia, selalu ada keinginan untuk melampiaskan hasrat, ego. Itu menunjukkan bawa manusia dalam berbagai situasi tenggelam dalam napsu dunia untuk melampiaskan egonya. Kontras dengan itu, pameran ini mengimbau kita untuk sebaliknya. Mas RB Ali dan Mas Gogor berusaha mendorong kita untuk mengosongkan diri sehingga kita menemukan diri kita yang lebih autentik, dan setelah itu kita mengisinya dengan hal-hal yang baik.”
Dinamika antara pengalaman kosong dan kemudian terisi itu diekspresikan dalam lukisan dengan bentuk-bentuk setengah figuratif. Ada gubahan-gubahan bentuk yang mengingatkan kita pada makhluk hidup atau benda-benda keseharian, seperti manusia, pohon, ikan, kursi, atau tangga. Namun, semua obyek itu tidak ditampilkan dengan anatomi utuh dan detail. Obyek yang tampak justru sering hanya rangkaian potongan yang sudah direduksi, dicomot, dibikin agak kubistis, diacak, dan dimainkan sesukanya.
Melihat lukisan-lukisannya, kita seperti menangkap berbagai kilasan fragmen pengalaman personal. Benar-benar kilasan yang tidak utuh karena tereduksi dalam pecahan visual yang liar. Namun, saat diperhatikan, kilasan itu juga tak sepenuhnya asing, lama-lama terasa kayak kita kenal. Kita seperti berada di antara tidak memahami sekaligus bisa mengenali; antara kosong dan isi.
Pendekatan itu berbeda dengan gaya visual Gogor yang lekat dengan lukisan bercorak abstrak. Dia senang memainkan bentuk-bentuk geometri. Salah satunya, lingkaran. Lingkaran adalah garis melengkung yang tersambung tanpa putus; yang tidak punya awal ataupun akhir. Kadang, dia juga memasukkan garis-garis yang luwes. Garis sendiri atau bergerombol, lurus atau bengkok bergelombang. Tiada pretensi untuk mereka-reka bentuk tertentu. Semua mengalir begitu saja. Dalam proses berkarya, Gogor sering kali mengalami kekosongan. Seperti Van Gogh, untuk memulai melukis ia hanya perlu berhenti berpikir, melepaskan dorongan instingtualnya untuk bergerak menorehkan garis, warna dan bentuk, hingga hal-hal tak terduga yang akan muncul diatas kanvasnya. Dengan kondisi ini, emosinya benar-benar lebur ditengah kehampaan, lepas dari ruang dan waktu, seperti sesuatu yang tidak pernah disadarinya, ia menyerahkan begitu saja pada proses kemenjadian yang esensial ini. Dari sini ia merasakan perjalanan yang sesungguhnya, yakni ke"Suwung"an itu. Sampai disitu batinnya mulai berdialog dengan karya yang akan "menjadi" ini.
Kurator Pameran Mayek Prayitno bercerita awal mula pameran ini, “Peristiwa yang dialami Mas Ali, ketika istrinya sakit terus kemudian meninggal. Dia mengalami shock, terguncang keras. Hingga ia berpikir untuk mengisi kekosongan itu berdasarkan apa yang dialami. Judul karya ‘Patah Sayap’, karya yang mendalam bagi Mas Ali, bercerita tentang rasa kehilangan dia terhadap istrinya di masa-masa itu. Setelahnya, Mas Ali tidak berhenti membuat karya yang senada.”
“Saya kira apa yang ingin disampaikan Mas Gogor dan Mas Ali, mengajak kita kembali untuk berefleksi, merenung untuk memikirkan ulang apa yang terjadi di situasi kita sekarang ini baik secara pribadi maupun komunal (masyarakat) secara umum. Dua perupa mengajak kita kosong kembali untuk mengisi kembali,” tutup Mayek.
Sedangkan, Kurator Pameran Sentot D. Setiawan menambahkan, “Kerja seniman itu punya akar, punya pondasi dalam tiap pribadi masing-masing, membangun statement atau dasar. Warna-warna Mas Ali dan Mas Gogor saat ini mewakili semua generasi.”
Mungkin ini tafsir Gogor atas "Nothing". Membiarkan tangan, pikiran, hati, dan perasaannya menyatu dalam gerak alami kuas dan warna, lantas mengalir luwes tanpa tendensi untuk menjadi apa-apa. Namun, di tengah ketiadaan apa-apa itu, kadang kita justru terpicu untuk memikirkan apa-apa, terutama saat bagian dari lukisan itu “nyantol” dengan memori atau rasa "deja vu" yang entah datang dari mana.
Begitulah RB Ali dan Gogor mengungkapkan penghayatan "nothing" dalam karya lukis. Kita bisa memproyeksikan lukisan itu untuk mencermati kehidupan nyata. Coba saja kita ambil jeda sejenak, duduk tenang, bermeditasi, dan mengosongkan hati serta pikiran dari hiruk-pikuk jagat nyata sehari-hari. Siapa tahu, kita bisa menemukan momen "suwung", lantas mendapatkan pencerahan.
Brandon Cahyadhuha Rusdy selaku yang meresmikan pameran mengatakan dalam sambutannya, “Betapa pentingnya transisi generasi di dalam art. Seperti di banyak industri, ketika transisi generasi mudanya tidak tertarik atau pembaruan, bisa membahayakan the future of art and culture khususnya di Indonesia.”
Brandon mengungkap, “Di Indonesia banyak budaya dan culture, itu sesuatu yang infinite. Indonesia bisa mengekspor budaya kita selamanya dan tidak akan habis. Menurut saya generasi baru itu sangat penting untuk meneruskan dan jika berhenti di kita, jadi kegagalan.”
Rb Ali dan Gogor Purwoko menyampaikan, “Kita masing-masing dalam keruwetan kita sendiri. Namun kita merespon sunyi dengan apa yang ada di dalam kita masing-masing. Selamat menikmati.”
Dua perupa itu menyajikan hampir 40 lukisan dalam pameran ini. Sebagian karya berukuran cukup besar. Gogor dan RB Ali mengeksplorasi tema "Nothing" dengan gaya khas masing-masing.
Selain pameran NOTHING, tersedia juga Workshop Live Painting & Chat bersama Ludo Yuda pada Kamis (08/10/2026) secara gratis dan terbuka untuk umum. Pengunjung dapat melihat langsung Pameran Nothing hingga 30 Oktober 2026, setiap pukul 10.00-17.00 WIB. Pameran tutup pada Sabtu, Minggu, dan hari libur nasional.
